Diduga PETI Wasirawi Kembali Menggila, Oknum Aparat Disebut Dalangnya

More articles

Manokwari– Di tengah gencarnya operasi penertiban pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang selama ini digelar aparat penegak hukum, aktivitas tambang ilegal di wilayah Wasirawi, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, justru diduga kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah praktik tambang ilegal benar-benar telah berhenti, atau hanya berpindah dan beroperasi dengan pola yang lebih tertutup?

Dugaan tersebut menguat setelah tim media melakukan penelusuran ke kawasan pinggir Sungai Wariori, Distrik Masni, yang disebut-sebut menjadi titik transit atau lokasi parkir alat berat sebelum masuk ke area pertambangan emas di Wasirawi.

Di lokasi itu, awak media menemukan satu unit ekskavator yang terparkir. Namun yang lebih menarik perhatian adalah keberadaan ratusan jeriken berwarna biru yang tersebar di sekitar alat berat tersebut. Sebagian jeriken tampak tersusun di atas ekskavator, sementara lainnya berserakan di sekitar lokasi.

Jumlah jeriken yang tidak sedikit itu memunculkan dugaan adanya persiapan logistik dalam skala besar. Apalagi, jeriken-jeriken tersebut diduga digunakan untuk menampung dan mengangkut bahan bakar minyak (BBM) jenis solar yang lazim dipakai untuk mengoperasikan alat berat di lokasi pertambangan.

Jika dugaan itu benar, maka keberadaan ekskavator dan stok BBM dalam jumlah besar tersebut dapat menjadi indikasi adanya aktivitas tambang yang terorganisir, bukan sekadar aktivitas masyarakat berskala kecil.

Penelusuran media kemudian berlanjut dengan meminta keterangan dari sejumlah orang yang berada di sekitar lokasi. Dari pengakuan beberapa pekerja yang mengaku sebagai anak buah operator alat berat tersebut, ekskavator dan ratusan jeriken yang berada di lokasi disebut merupakan milik seseorang bernama Irman.

Tidak hanya itu, para pekerja juga menyebut bahwa alat berat dan BBM tersebut tengah dipersiapkan untuk dibawa naik ke lokasi tambang emas yang berada di kawasan Wasirawi.

“Ini punya Bos. Solar dan alat berat ini persiapan untuk naik ke lokasi tambang,” ujar salah seorang pekerja kepada awak media.

Keterangan tersebut kemudian menjadi petunjuk awal yang mendorong awak media melakukan upaya konfirmasi secara langsung kepada pihak yang namanya disebutkan.

Berbekal informasi dari para pekerja, awak media mendatangi rumah yang disebut sebagai kediaman Irman di kawasan Perempatan SP 7, Distrik Masni, Kabupaten Manokwari. Namun saat didatangi, yang bersangkutan tidak berada di tempat dan belum dapat memberikan klarifikasi maupun tanggapan terkait dugaan yang diarahkan kepadanya.

Belum adanya klarifikasi dari pihak yang disebutkan tentu membuka ruang bagi proses verifikasi lebih lanjut. Namun temuan di lapangan dan keterangan para pekerja menjadi informasi yang patut ditelusuri oleh aparat penegak hukum.

Menanggapi temuan tersebut, Ketua LSM Wadah Generasi Anak Bangsa (WGAB), Yerri Basri Mak, SH., MH., mendesak Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Alfred Papare, S.I.K., untuk segera memerintahkan jajarannya melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan aktivitas PETI yang kembali marak di wilayah Wasirawi.

Menurut Yerri, apabila benar terdapat aktivitas tambang ilegal yang menggunakan alat berat dan didukung pasokan BBM dalam jumlah besar, maka persoalan tersebut tidak dapat dianggap sebagai pelanggaran biasa.

“Jika memang terdapat aktivitas pertambangan emas tanpa izin yang menggunakan alat berat dan didukung pasokan BBM dalam jumlah besar, maka aparat penegak hukum harus segera bertindak. Jangan biarkan aktivitas ilegal ini terus berlangsung dan merusak lingkungan. Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Yerri, Selasa (9/6/2026).

Lebih jauh, Yerri menilai penggunaan ekskavator dalam aktivitas PETI memiliki dampak kerusakan lingkungan yang jauh lebih besar dibandingkan penambangan tradisional. Pembukaan lahan secara masif, pengerukan tanah dalam skala besar, sedimentasi sungai, hingga ancaman pencemaran lingkungan menjadi risiko nyata yang harus dicegah sejak dini.

Karena itu, ia meminta aparat penegak hukum tidak berhenti pada penindakan terhadap pekerja lapangan semata. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah membongkar rantai bisnis yang berada di balik aktivitas tambang ilegal tersebut.

“Kalau benar ada alat berat dan pasokan BBM dalam jumlah besar yang digunakan untuk mendukung aktivitas tambang, maka aparat harus membongkar sampai ke akar-akarnya. Siapa pemilik alat, siapa pemasok BBM, siapa yang membiayai operasional, dan siapa yang menikmati hasil tambang itu harus diperiksa sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.

Desakan tersebut muncul karena praktik PETI selama ini kerap dianggap tidak mungkin berjalan tanpa adanya dukungan modal, logistik, dan jaringan distribusi yang terorganisir. Oleh sebab itu, pengungkapan aktor intelektual di balik aktivitas tambang ilegal dinilai menjadi kunci utama untuk menghentikan praktik tersebut secara permanen.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun dari Irman terkait dugaan aktivitas pertambangan emas tanpa izin yang disebut-sebut kembali berlangsung di kawasan Wasirawi, Kabupaten Manokwari.

Investigasi terhadap temuan ini masih terus berlanjut.

Jhonsa

About The Author

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest