Alahan Panjang — Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menyaksikan langsung momentum bersejarah perdamaian atas konflik yang sempat mengguncang kawasan wisata Alahan Panjang, Jumat (10/4/2026). Peristiwa yang dulu menyisakan luka kini berakhir dengan satu kata: badunsanak—bersaudara kembali.
Di tengah udara sejuk dataran tinggi, hari itu bukan sekadar seremoni. Ia menjadi titik balik dari konflik pengeroyokan dan pengrusakan yang terjadi pada 2 November 2025—insiden yang sempat viral dan mencoreng citra Alahan Panjang sebagai destinasi wisata unggulan.
Namun, alih-alih berlarut di jalur litigasi, kedua belah pihak memilih jalan berbeda: restorative justice. Pendekatan yang menempatkan pemulihan hubungan sebagai tujuan utama, bukan sekadar penghukuman.
Proses hukum sempat berjalan. Ketegangan pun tak terhindarkan. Tetapi seiring waktu, tumbuh kesadaran bahwa konflik sosial tak selalu harus berakhir di ruang sidang. Ada ruang dialog, ruang saling memahami, dan ruang untuk memperbaiki hubungan yang retak.
Puncaknya terjadi pada Jumat itu. Melalui penandatanganan kesepakatan perdamaian, kedua belah pihak sepakat mengakhiri persoalan secara damai dan berkomitmen tidak mengulangi peristiwa serupa.
Suasana yang sebelumnya penuh emosi berubah haru. Tangan yang dulu berhadapan kini saling berjabat. Luka perlahan digantikan oleh niat untuk memulai kembali.
Bupati Solok Jon Firman Pandu mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian ini—mulai dari Polres Solok Arosuka, tokoh adat, LKAAM, unsur nagari, hingga masyarakat yang memilih jalan damai.
“Ini bukan perkara mudah. Tapi kita membuktikan bahwa persoalan bisa diselesaikan jika semua pihak mau duduk bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama. Tidak hanya untuk menghindari konflik serupa, tetapi juga untuk menjaga marwah daerah, terutama sebagai kawasan wisata.
“Ambil hikmahnya. Dari sini kita lanjutkan sebagai hubungan kekeluargaan. Mari kita jaga potensi daerah kita,” tambahnya.
Senada, Kapolres Solok Arosuka AKBP Agung Pranajaya menyebut peristiwa ini sebagai momentum refleksi.
“Kejadian ini sempat menyentuh sisi emosional kami. Tapi hari ini menjadi titik balik. Dari khilaf, kita melompat menuju kemajuan,” ungkapnya.
Ia bahkan menyebut peresmian Terrace Alpa di hari yang sama bukan sekadar pembukaan destinasi baru, melainkan simbol perdamaian bagi masyarakat.
Pemilik Terrace Alpa, Muhammad Syukri, turut mengungkapkan rasa syukur atas berakhirnya konflik.
“Ini bukan hanya penyelesaian masalah, tapi awal hubungan baru. Kita kembali sebagai badunsanak,” katanya.
Kuasa hukum korban, Amnasmen, menilai penyelesaian ini sebagai contoh proses hukum yang bermartabat.
“Tidak semua persoalan harus berakhir di pengadilan. Ada cara yang lebih menyejukkan dan bisa diterima semua pihak,” ujarnya.
Dari pihak masyarakat, perwakilan warga Galagah Nagari Alahan Panjang, Deni, juga menyampaikan permintaan maaf dan harapan agar kejadian serupa tidak terulang.
Perdamaian ini bukan sekadar menutup konflik, tetapi membawa pesan kuat: bahwa penyelesaian dengan pendekatan kemanusiaan mampu menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan.
Di saat yang sama, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa menjaga citra daerah—terutama kawasan wisata—adalah tanggung jawab bersama.
Dari luka yang pernah ada, kini lahir harapan baru. Alahan Panjang tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena kedewasaan masyarakatnya dalam menyelesaikan konflik—bukan dengan dendam, melainkan dengan persaudaraan.
(yans)

