Banner iklan Muba

Jejak Ponsel Korban Bongkar Dua DPO, PN-KT Diburu Polisi Usai Penembakan Tiga ASN di Papua

More articles

Papua — Perburuan terhadap orang-orang yang diduga terlibat dalam penembakan tiga aparatur sipil negara (ASN) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jayawijaya, Papua, mulai mengarah kepada dua nama yang tak asing bagi aparat: PN dan KT.

Polisi mengklaim telah mengidentifikasi keduanya sebagai terduga pelaku. Bahkan, jejak yang ditinggalkan setelah aksi penembakan ikut membuka pintu penyelidikan. Ponsel milik salah satu korban, Wili Mbuik, diduga berada di tangan pelaku dan sempat digunakan untuk melakukan video call dengan keluarga korban.

Video call tersebut dilakukan sebanyak dua kali menggunakan nomor telepon milik korban.

Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, membenarkan bahwa polisi telah mengantongi identitas PN dan KT.

“Ya kita sudah identifikasi. Ini betul terduga pelaku. Ada dua kali itu, dia video call menggunakan nomor korban yang handphone-nya dibawa oleh pelaku,” kata Yusuf, Jumat (11/9/2026).

Bagi aparat, jejak tersebut bukan perkara kecil. Ponsel yang diduga dibawa setelah penembakan kini menjadi salah satu petunjuk untuk mengendus pergerakan para terduga pelaku.

Yang membuat kasus ini semakin serius, PN dan KT disebut memiliki rekam jejak sebagai buronan dalam sejumlah perkara kekerasan bersenjata di Papua.

Keduanya tercatat sebagai DPO dalam kasus penculikan pilot yang berhasil dibebaskan pada 2024. Mereka juga disebut masuk dalam daftar pencarian terkait kasus pembantaian pekerja PT Istaka Karya pada 2019.

Dalam kasus tersebut, kelompok bersenjata diduga melakukan perampokan, penculikan hingga pembunuhan terhadap sejumlah pekerja yang tengah mengerjakan pembangunan jalan Trans Papua.

Kini, dua nama yang pernah menjadi target pengejaran aparat itu kembali terseret dalam penyelidikan kasus penembakan tiga ASN di Jayawijaya.

Polisi memburu. Jejak digital ditelusuri. Hutan menjadi salah satu medan pengejaran.

Aparat masih berupaya menemukan keberadaan PN dan KT. Tantangannya tidak ringan. Para terduga pelaku diduga memiliki kemampuan berbaur dengan masyarakat sebelum menghilang dan kembali masuk ke kawasan hutan.

Polisi juga belum memastikan penembakan tersebut berkaitan dengan latar belakang korban sebagai warga yang bukan Orang Asli Papua. Motif dan keterlibatan kelompok tertentu masih didalami.

Yusuf menegaskan, aksi kelompok bersenjata selama ini cenderung dilakukan secara acak dengan pola utama menciptakan teror melalui ancaman maupun kekerasan.

“Kalau terkait dengan kelompok tertentu, masih terlalu jauh kami untuk menilai seperti itu, sebab biasanya mereka melakukannya secara random,” ujarnya.

“Jadi, kalau modus yang mereka lakukan, ini mereka memang selalu menebar teror dengan ancaman kekerasan maupun tindakan kekerasan,” tegas Yusuf.

Kasus ini kini memasuki fase pengejaran. Dua nama sudah dikantongi, jejak ponsel korban mulai dibaca, sementara aparat terus menyisir kemungkinan persembunyian para terduga pelaku.

Di tengah kerasnya medan Papua, polisi dituntut tidak hanya menemukan PN dan KT, tetapi juga mengungkap secara terang siapa yang berada di balik penembakan tiga ASN tersebut dan apa motif sebenarnya.

Perburuan terus berlangsung. Jejak sudah ditinggalkan. Kini tinggal menunggu apakah polisi mampu mengubah jejak itu menjadi penangkapan.

(Red)

About The Author

spot_img

Latest