Dari lorong sempit pasar hingga berdiri sebagai sosok inspiratif, perjalanan hidup Abil Kuba adalah potret nyata keteguhan, kerja keras, dan kekuatan harapan di tengah keterbatasan.
Di sudut sederhana Kota Batusangkar, Sumatera Barat, pada 1 Oktober 1989, lahirlah seorang anak bungsu dari enam bersaudara: Abdul Anasril, yang kemudian dikenal sebagai Abil Kuba. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, putra pasangan Basir dan Nurhayati, yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tak menentu di pasar. Sang ayah bekerja serabutan, sementara ibunya berjualan kue dengan cara berkeliling.
Masa kecil Abil bukanlah cerita kemewahan. Ia dibesarkan di lingkungan pasar, di belakang “pajak” Batusangkar—tempat hiruk-pikuk ekonomi rakyat kecil berlangsung setiap hari. Bahkan, tempat tinggalnya pun berdampingan dengan kehidupan masyarakat perantau, termasuk komunitas India yang dikenal warga setempat sebagai “orang kampung sudut”.
Sejak duduk di bangku SDN 13 Beringin, Abil sudah mengenal arti kerja keras. Sepulang sekolah, ia tidak bermain seperti anak-anak lain. Ia membantu ibunya mencari ubi, mengupasnya, dan ikut berjuang demi menyambung hidup keluarga. Namun, kehidupan mengajarkannya lebih cepat untuk mandiri. Saat masih SD, Abil tak lagi tinggal bersama orang tuanya. Ia menumpang di rumah teman-temannya di daerah Simpurut, hidup bersama dalam keterbatasan, belajar berbagi ruang, waktu, dan mimpi.
Perjalanan pendidikannya berlanjut ke MTsN Sungayang. Di sinilah ujian hidup datang lebih berat. Saat ia masih duduk di bangku sekolah, sang ayah meninggal dunia. Dunia seakan runtuh, tetapi Abil tidak memilih menyerah.
Dengan tekad yang tersisa, ia tetap melanjutkan sekolah. Ia mendapatkan beasiswa, dan di sela waktu belajar, setiap hari Rabu ia bekerja di pasar Batusangkar—melanjutkan pekerjaan almarhum ayahnya, menyiapkan meja dan payung untuk para pedagang.
Hari-hari itu ditempuh dengan peluh dan doa. Dukungan guru-guru, terutama wali kelasnya, menjadi penopang semangat yang hampir patah.
Setelah tamat MTsN, Abil dihadapkan pada pilihan berat: melanjutkan sekolah atau berhenti. Ia memilih merantau ke Sawahlunto Sijunjung, mengikuti kakaknya, Masri Bandaro.
Di sana, ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Muaro Sijunjung. Kehidupan kembali berputar. Abil dikenal sebagai siswa aktif—ia terlibat dalam pramuka, KPA, paskibraka, hingga pencak silat.
Namun, di tengah perjalanan kelas dua, ia kembali harus berhenti sekolah karena keterbatasan biaya. Ia pulang ke Batusangkar, membantu ibunya kembali berjualan.
Tak disangka, harapan datang kembali. Pihak sekolah memanggilnya. Kepala sekolah saat itu, Bpk Antonius, menanyakan satu hal sederhana:
“Kamu masih mau sekolah?”
Jawaban Abil tegas: “Mau, Pak. Tapi saya tidak punya biaya.”
Keputusan besar pun diambil. Kepala sekolah bersama guru-guru menanggung biaya pendidikannya. Bagi Abil, itu bukan sekadar bantuan—itu adalah kepercayaan.
Ia kembali ke sekolah, tinggal di pondok kecil di belakang SMA. Setiap sore, ia membantu gurunya, Bpk Afrizal, merawat taman sekolah—menyiram bunga, membersihkan halaman. Dari sana, ia belajar bahwa hidup adalah tentang memberi arti, sekecil apa pun itu.
Kepercayaan kawan-kawan sekolah terhadap Abil mencapai puncaknya saat pemilihan Ketua OSIS. Dari ratusan siswa, Abil terpilih dengan suara terbanyak.
Semua guru terkejut. Namun, bagi mereka yang mengenalnya, itu bukan kebetulan. Abil adalah sosok yang dekat dengan banyak orang, pekerja keras, dan memiliki jiwa kepemimpinan alami.
Di bawah kepemimpinannya, nama sekolah semakin dikenal. Ia berprestasi di berbagai bidang—pencak silat, pramuka, hingga menjadi komandan paskibraka saat peringatan 17 Agustus. Ia lulus dengan nilai membanggakan—hasil dari perjuangan panjang, bukan sekadar kecerdasan.
Namun, setelah tamat SMA, jalan kembali tak mudah. Ia tidak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Kehidupan memanggilnya untuk bekerja.
Ia menerima tawaran dari mantan kepala sekolahnya, Bpk Antonius, untuk menjadi satpam di SMK Tanjung Ampalu. Di sinilah babak baru dimulai.
Bukan sekadar penjaga sekolah, Abil membawa semangat perubahan. Ia mengusulkan pembentukan ekstrakurikuler pencak silat. Ide itu disetujui. Bersama gurunya, Bpk Afrizal, ia mendirikan perguruan silat bernama Singgo Hitam—sebuah simbol kekuatan dan jati diri.
Tahun 2007 menjadi titik penting. Kehadirannya sebagai satpam menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Sijunjung. Banyak sekolah mulai mengikuti langkah yang sama.
Namun, jiwa perantau dalam dirinya kembali bergejolak. Dengan restu kepala sekolah, guru, dan orang-orang yang telah menjadi keluarganya, Abil memutuskan melangkah lebih jauh.
Dengan penuh haru, Abdul Anasril—Abil Kuba—mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah membantunya berdiri.
Ia percaya pada satu hal sederhana:
“Allah kuasa, makhluk tak kuasa.”
Dari pasar kecil di Batusangkar, dari kehilangan dan keterbatasan, Abil menapaki hidup dengan satu bekal: keteguhan.
Dan perjalanan itu—baru saja dimulai.
Ak²⁸

