Antrean BBM Tak Kunjung Usai, Warga Desak Dirut Pertamina Evaluasi Kepala Fuel Terminal Medan

More articles

Medan – Krisis antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Kota Medan dan wilayah Sumatera Utara belum juga menunjukkan tanda-tanda berakhir. Hingga Jumat (17/7/2026), antrean kendaraan masih mengular di berbagai SPBU, memicu keluhan masyarakat dan memunculkan desakan agar manajemen Pertamina melakukan evaluasi menyeluruh terhadap distribusi BBM di wilayah tersebut.

Sejumlah warga bahkan meminta Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, segera mengevaluasi dan mencopot Teddy Manuputty dari jabatannya sebagai Kepala Fuel Terminal Medan (FTM) yang juga disebut menjabat sebagai General Manager Pertamina Patra Niaga Terminal Medan Group.

Desakan tersebut muncul karena masyarakat menilai persoalan kelangkaan BBM yang berujung antrean panjang terus terjadi sejak kepemimpinan Teddy Manuputty di Fuel Terminal Medan.

“Setahu saya, sejak Teddy Manuputty memimpin Fuel Terminal Medan, kelangkaan BBM di SPBU di Sumatera Utara, khususnya Kota Medan, semakin sering terjadi. Antrean panjang yang paling parah berlangsung sejak 15 Juni 2026 hingga sekarang,” ujar Abdurrahman (54), warga Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya evaluasi serius terhadap tata kelola distribusi BBM di Sumatera Utara.

“Kami menilai Teddy gagal mengatasi persoalan distribusi BBM di Sumut. Karena itu kami meminta Direktur Utama Pertamina segera mencopot jabatannya,” tegasnya.

Ironisnya, antrean panjang justru masih terlihat di SPBU 14.204.117 di Jalan KL Yos Sudarso Km 18,5, Medan Labuhan. Padahal, lokasi SPBU tersebut hanya berjarak sekitar satu kilometer dari Fuel Terminal Medan Group, yang merupakan pusat distribusi BBM untuk wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut).

Fakta tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai efektivitas sistem distribusi BBM yang dijalankan. Masyarakat menilai keberadaan terminal distribusi yang sangat dekat dengan SPBU semestinya mampu menjamin pasokan tetap lancar, bukan justru diwarnai antrean kendaraan yang mengular setiap hari.

Persoalan kelangkaan BBM di Sumatera Utara pun telah menjadi perhatian luas dan menyita sorotan publik. Di tengah keresahan masyarakat, berbagai informasi yang beredar di media sosial justru memicu polemik baru. Sejumlah narasi yang berkembang menyebut penyebab kelangkaan berasal dari kekurangan sopir mobil tangki maupun adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap Awak Mobil Tangki (AMT).

Namun, informasi tersebut dibantah oleh sejumlah Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina Labuhan Deli.

Saat dihubungi mereka menegaskan bahwa tidak pernah terjadi PHK massal maupun kekurangan pengemudi seperti yang ramai diperbincangkan.

“Tidak ada kami di-PHK secara massal, tidak ada pula kekurangan sopir di Pertamina Labuhan Deli. Semua itu tidak benar. Bahkan kami bekerja hingga 48 jam,” ungkap sejumlah AMT.

Sebelumnya, upaya penanganan antrean BBM juga mendapat perhatian dari Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution. Bahkan, personel TNI turut diperbantukan untuk mengemudikan mobil tangki Pertamina guna mempercepat distribusi BBM ke SPBU.

Meski demikian, hingga berita ini diterbitkan, antrean panjang di sejumlah SPBU masih terjadi. Kondisi tersebut memunculkan tuntutan agar Pertamina tidak hanya melakukan langkah-langkah darurat, tetapi juga mengusut akar persoalan distribusi BBM serta melakukan evaluasi terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan adanya kelemahan dalam pengelolaan distribusi.

Man

About The Author

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img

Latest