Miris, 25 Tahun Menumpang di Rumah Warisan Nenek Tanpa Kamar Mandi dan MCK

More articles

Pidie Jaya – Potret kehidupan memprihatinkan dialami sepasang suami istri di Desa Peulandok Teungoh, Kecamatan Trienggadeng, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Berdasarkan penelusuran kontributor Investigasi.News, pasangan bernama Nurdin dan istrinya, Fonna, telah tinggal selama 25 tahun di rumah peninggalan nenek yang dihibahkan kepada mereka. Rumah semi permanen tersebut kini dalam kondisi memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni.

Bangunan yang sebagian besar terbuat dari triplek bekas itu tampak lapuk dimakan usia. Dinding dan plafon rumah banyak yang rusak sehingga saat hujan deras dan angin kencang menerpa, mereka terpaksa berpindah-pindah tempat di dalam rumah untuk menghindari kebocoran.

Kondisi semakin memprihatinkan karena rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi maupun fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Bahkan, sumur yang digunakan berada di luar rumah tanpa pagar atau pelindung yang memadai.

Nurdin mengaku kesulitan ekonomi yang dialami keluarganya semakin berat karena selain hidup dalam keterbatasan, mereka juga harus merawat seorang anak yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ).

“Kami sudah 25 tahun tinggal di rumah yang dihibahkan oleh nenek istri saya. Kondisinya seperti ini, tidak ada kamar mandi, tidak ada WC, bahkan tidur pun seadanya. Terkadang di tengah malam kami harus berpindah tempat tidur saat hujan deras karena air hujan dan angin masuk ke dalam rumah,” ujarnya.

Nurdin mengatakan dirinya tidak dapat bekerja berat karena mengalami cacat pada kaki. Selama ini ia hanya mampu melakukan pekerjaan ringan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara itu, istrinya membantu bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Hal senada disampaikan Fonna. Ia berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah agar keluarganya dapat memiliki rumah yang layak huni.

“Saya sangat ingin memiliki rumah yang layak. Sampai usia setua ini, saya belum pernah merasakan tinggal di rumah yang nyaman. Saya berharap di masa tua bisa menikmati rumah yang memiliki sumur, kamar mandi, dan WC yang layak,” tuturnya sambil menahan haru.

Keuchik (kepala desa) setempat, Mucklis, membenarkan kondisi yang dialami pasangan tersebut. Menurutnya, Nurdin dan keluarganya memang sudah lama tinggal di rumah hibah tersebut dan hingga kini belum memiliki fasilitas dasar seperti kamar mandi dan WC.

“Benar, mereka sudah lama menetap di rumah itu sejak dihibahkan oleh neneknya. Selama ini, jika ingin buang air besar, mereka harus pergi ke masjid karena di rumah tersebut tidak tersedia kamar mandi maupun WC,” katanya.

Kisah Nurdin dan Fonna menjadi gambaran nyata bahwa masih ada masyarakat yang hidup dalam keterbatasan dan membutuhkan perhatian lebih. Di tengah berbagai pembangunan yang terus berjalan, masih terdapat warga yang belum dapat menikmati hunian yang layak serta fasilitas dasar untuk menunjang kehidupan sehari-hari.

(Nurwinda)

About The Author

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -spot_img

Latest