Tanah Datar- 17 Januari 2026 Kiprah kepemimpinan Brigadir Jenderal TNI (Purn) Ikasuma Hamid, bergelar adat Datuk Gadang Batuah, mantan Bupati Tanah Datar periode 1985–1995, hingga kini tetap dikenang dan menjadi inspirasi lintas generasi. Berasal dari keluarga sederhana, Ikasuma Hamid membuktikan bahwa nilai-nilai integritas, disiplin, dan pengabdian khas militer mampu membawa perubahan besar bagi pembangunan daerah.
Latar Belakang dan Karier Militer
Ikasuma Hamid lahir di Nagari Kubang Landai, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar. Terlahir sebagai anak petani, ia menempuh pendidikan dengan penuh perjuangan, termasuk berjalan sejauh kurang lebih 12 kilometer setiap hari menuju sekolah di Batusangkar.
Semangat juang tersebut mengantarkannya masuk Akademi Militer Nasional (AMN) pada tahun 1968. Karier militernya terbilang gemilang, di antaranya pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon Infanteri 131/Braja Sakti di Payakumbuh.
Membawa Perubahan Besar di Tanah Datar
Saat dilantik sebagai Bupati Tanah Datar oleh Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas, Ikasuma Hamid menerima kondisi daerah yang saat itu berada di peringkat terbawah pembangunan di Sumatera Barat. Dengan pendekatan kepemimpinan yang tegas, berpihak kepada rakyat, serta mengedepankan nilai budaya Minangkabau, ia melakukan terobosan strategis.
Salah satu langkah penting adalah pembentukan Yayasan Pembangunan Nagari, yang mendorong partisipasi masyarakat secara aktif dalam pembangunan. Hasilnya, Tanah Datar mengalami lompatan signifikan dan berhasil meraih Paramasya Purnakarya Nugraha, penghargaan pembangunan tertinggi dari Pemerintah Pusat.
Dalam perjalanan kepemimpinannya, Ikasuma Hamid dikenal berani bersikap. Ia bahkan rela menitikkan darah dalam sidang DPRD sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan yang dinilai merugikan masyarakat. Ia pula yang menggagas konsep PERTIWI, menjadikan Tanah Datar sebagai kabupaten pertama di Sumatera Barat dengan APBD melampaui Rp1 miliar pada masanya.
Pembangunan GOR Dang Tuanku menjadi salah satu ikon keberhasilan kepemimpinannya. Dengan modal awal hanya sekitar Rp10 juta, serta dukungan gotong royong masyarakat dan unsur TNI, fasilitas olahraga tersebut berhasil diwujudkan dan hingga kini tetap dimanfaatkan masyarakat.
Teladan Kepemimpinan
Brigjen (Purn) Ikasuma Hamid dikenal sebagai sosok anti korupsi, tidak pernah mengambil hak di luar ketentuan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi. Ia wafat pada 16 Maret 2011, meninggalkan jejak keteladanan tentang makna kepemimpinan sejati: pengabdian tanpa pamrih demi kesejahteraan rakyat.
Tokoh ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan yang bersih, berani, dan berakar pada nilai budaya mampu mengubah daerah tertinggal menjadi kabupaten percontohan. Abil















