Banner iklan Muba

Terendus Dugaan Perdagangan Orang Lintas Negara, Polisi Amankan Tiga Nelayan dan Lima WNA China di Rote Ndao

More articles

NTT, Investigasi.News — Dugaan praktik pengangkutan manusia lintas negara melalui jalur laut kembali terungkap di wilayah perairan Nusa Tenggara Timur. Kali ini, aparat Kepolisian Resor Rote Ndao menggagalkan dugaan keberangkatan lima warga negara asing (WNA) asal China yang diduga hendak dibawa menuju Australia melalui kawasan perairan Pulau Ndana, Desa Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao.

Akun resmi media sosial Bidhumas Polda NTT mengungkapkan bahwa dalam operasi tersebut, polisi mengamankan tiga nelayan berkewarganegaraan Indonesia yang diduga memiliki keterkaitan dengan perjalanan laut tersebut. Aparat juga menemukan lima WNA yang sebelumnya bersembunyi di kawasan pesisir Pulau Ndana, Jumat (6/11/2026).

Ketiga nelayan yang kini menjalani pemeriksaan masing-masing berinisial S (52), R (32), dan RS (36). Berdasarkan identitas awal, mereka berasal dari Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, dan bekerja sebagai nelayan.

Informasi sementara yang diperoleh kepolisian mengindikasikan bahwa ketiganya menggunakan kapal fiber tanpa nama untuk membawa lima WNA tersebut dari perairan Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, dengan Australia sebagai tujuan akhir perjalanan.

Kapolda NTT Irjen Pol. Reza Arief Dewanto, S.I.K., melalui Kabidhumas Polda NTT Kombes Pol. Henry Novika Chandra, S.I.K., M.H., menyampaikan apresiasi terhadap langkah aparat Polres Rote Ndao dalam merespons informasi mengenai aktivitas mencurigakan di wilayah perairan.

Polda NTT menilai pengungkapan tersebut menjadi bagian penting dari upaya pengawasan jalur laut, terutama di kawasan perbatasan yang berpotensi dimanfaatkan untuk aktivitas perpindahan orang secara ilegal.

Penyidik kini memusatkan perhatian pada penelusuran pihak yang berada di balik perjalanan tersebut. Aspek yang didalami meliputi asal-usul rencana keberangkatan, mekanisme pengangkutan, kemungkinan adanya penyandang dana, serta pihak yang diduga mengorganisasi perjalanan menuju Australia.

Berawal dari Informasi Kapal Mencurigakan

Penanganan kasus ini bermula pada Kamis (5/11/2026), ketika personel Satintelkam Polres Rote Ndao menerima informasi mengenai pergerakan sebuah kapal dari kawasan Maginti yang melintasi perairan setempat.

Sekitar pukul 10.00 WITA, informasi lanjutan diperoleh melalui jaringan intelijen di Desa Papela, Kecamatan Rote Timur. Keterangan tersebut mengungkap adanya permintaan bantuan untuk menjemput tiga nelayan di sekitar Pulau Ndana karena kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan.

Kecurigaan aparat semakin menguat setelah seorang warga yang berprofesi sebagai nelayan dari Desa Oeseli menyampaikan informasi mengenai keberadaan kapal tidak dikenal di sekitar Pulau Ndana pada 4 November 2026.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolres Rote Ndao menginstruksikan personel untuk melakukan penelusuran guna memastikan keberadaan kapal beserta orang-orang yang berkaitan dengan aktivitas tersebut.

Penyisiran awal dilakukan oleh anggota Polsek Rote Barat Daya menggunakan perahu pada Kamis sore. Sekitar pukul 18.00 WITA, petugas mendapatkan informasi mengenai tiga pria yang terlihat di sekitar perairan Pulau Ndana dan sedang bergerak ke arah Pulau Rote.

Tim Satintelkam kemudian memperluas pencarian ke kawasan perairan antara Pulau Ndana dan Pulau Landu.

Sekitar pukul 20.00 WITA, ketiga pria tersebut ditemukan berada di atas perahu milik masyarakat. Mereka selanjutnya dibawa untuk diamankan dan dimintai keterangan oleh aparat kepolisian.

Lima WNA Ditemukan Bersembunyi di Pesisir Pulau Ndana

Setelah ketiga nelayan berhasil diamankan, polisi melanjutkan operasi untuk mencari lima warga negara asing yang berdasarkan informasi awal masih berada di kawasan Pulau Ndana.

Pada Jumat pagi sekitar pukul 06.30 WITA, Kasat Intelkam Polres Rote Ndao mengerahkan dua kelompok personel menggunakan dua perahu menuju lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para WNA tersebut.

Dalam perjalanan menuju pulau, petugas mendapati sebuah perahu yang diduga akan melakukan penjemputan. Namun, perahu tersebut meninggalkan lokasi setelah mengetahui kedatangan aparat. Sampai saat ini, identitas pemilik maupun asal perahu tersebut belum diketahui.

Proses pencarian berlangsung dalam kondisi laut yang kurang bersahabat. Gelombang cukup tinggi dan keterbatasan lokasi untuk merapatkan perahu membuat personel harus melanjutkan perjalanan dengan berenang menuju tepian pulau.

Sekitar pukul 07.20 WITA, keberadaan lima WNA asal China akhirnya diketahui. Mereka ditemukan bersembunyi di antara pepohonan yang berada di kawasan pesisir.

Petugas kemudian melakukan pendekatan secara persuasif sebelum membawa kelimanya keluar dari lokasi persembunyian. Proses evakuasi berlangsung hingga pukul 07.40 WITA dengan menggunakan perahu menuju Pelabuhan Desa Oeseli.

Selanjutnya, pada sekitar pukul 08.00 WITA, kelima warga negara asing tersebut dibawa ke Markas Polres Rote Ndao untuk menjalani pemeriksaan identitas dan pendalaman terkait tujuan kedatangan mereka di wilayah Indonesia.

Berdasarkan pendataan awal, kelima WNA tersebut terdiri atas empat laki-laki dan satu perempuan. Mereka masing-masing bernama Zhao Shuo, Chai Jiaxing, Jiang Hongzhuo, Sun Yinghua, dan Wang Yu.

Kapal Mengalami Kerusakan, Diduga Perjalanan Berakhir di Pulau Ndana

Dari informasi awal yang sedang dikembangkan penyidik, perjalanan menggunakan kapal fiber tersebut diduga dimulai dari perairan Bau-Bau, Sulawesi Tenggara, pada Minggu (1/11/2026) sekitar pukul 22.00 WITA.

Rute pelayaran yang teridentifikasi sementara mencakup kawasan Batu Atas, Larantuka, hingga perairan Pulau Rote. Perjalanan tersebut diduga diarahkan menuju Australia.

Namun, rencana pelayaran itu mengalami hambatan setelah kapal dilaporkan mengalami gangguan mesin ketika berada di sekitar Pulau Ndana.

Kondisi tersebut diduga menyebabkan tiga nelayan bersama lima penumpang berkewarganegaraan China meninggalkan kapal dan berada di kawasan pulau tersebut sambil menunggu bantuan.

Kapal fiber yang diduga menjadi sarana pengangkutan hingga kini masih berada di sekitar Pulau Ndana. Kondisi perairan yang dangkal menyebabkan kapal mengalami kandas sehingga belum berhasil dipindahkan oleh petugas.

Aparat kepolisian berencana melakukan evakuasi terhadap kapal tersebut untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk menelusuri kemungkinan adanya bukti lain yang dapat membantu mengungkap konstruksi peristiwa.

Polisi Amankan Kapal, Uang Tunai dan Telepon Genggam

Dalam penanganan perkara ini, polisi turut mengamankan sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan aktivitas perjalanan laut tersebut.

Barang bukti yang telah diidentifikasi meliputi satu unit kapal fiber tanpa nama dengan bagian atas berwarna putih dan lambung hijau.

Selain kapal, petugas juga menyita uang tunai sebesar Rp1.245.000 yang terdiri atas sembilan lembar pecahan Rp100.000, enam lembar Rp50.000, dua lembar Rp20.000, dan satu lembar Rp5.000.

Barang lainnya berupa uang tunai Rp167.000, dengan rincian satu lembar Rp100.000, satu lembar Rp50.000, satu lembar Rp10.000, satu lembar Rp5.000, serta satu lembar Rp2.000.

Polisi juga mengamankan satu unit telepon genggam merek Itel A100C model A6611L berwarna silver.

Keberadaan perangkat komunikasi tersebut menjadi salah satu bagian yang perlu ditelusuri lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan hubungan komunikasi antara para nelayan dengan pihak lain yang diduga terlibat dalam perjalanan tersebut.

Dugaan Jaringan Pengangkutan Lintas Negara Masih Didalami

Saat ini, tiga nelayan dan lima WNA telah berada di Mapolres Rote Ndao. Kepolisian juga telah membuat Laporan Polisi Model A beserta administrasi penyelidikan untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Sejumlah pertanyaan mendasar masih menjadi pekerjaan penyidik. Di antaranya mengenai siapa yang menginisiasi perjalanan, bagaimana kelima WNA tersebut bisa sampai ke perairan Indonesia, siapa yang mengatur transportasi laut, serta apakah terdapat pihak lain yang bertugas menjemput mereka di sekitar Pulau Ndana.

Keberadaan perahu yang melarikan diri ketika aparat tiba di lokasi juga menjadi salah satu aspek yang patut ditelusuri. Identitas pengemudi, kepemilikan perahu, serta tujuan kedatangannya belum diketahui secara pasti.

Selain itu, pemeriksaan terhadap identitas dan dokumen keimigrasian kelima WNA perlu dilakukan melalui koordinasi dengan instansi terkait. Langkah tersebut penting untuk memastikan status keberadaan mereka sekaligus mengetahui jalur perjalanan yang telah ditempuh.

Polda NTT menyatakan bahwa penanganan kasus akan terus dikembangkan berdasarkan hasil pemeriksaan, keterangan para pihak, serta alat bukti yang ditemukan di lapangan.

Rote Ndao Menjadi Titik Strategis Pengawasan Jalur Laut

Terungkapnya peristiwa ini kembali menyoroti kerawanan jalur pelayaran di wilayah selatan Nusa Tenggara Timur. Secara geografis, Kabupaten Rote Ndao memiliki posisi strategis karena berada di kawasan perbatasan laut Indonesia dengan Australia.

Kondisi geografis tersebut menuntut pengawasan yang lebih intensif, terutama terhadap aktivitas kapal yang tidak memiliki identitas jelas, pergerakan penumpang yang tidak disertai dokumen memadai, maupun kegiatan pelayaran yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Keterlibatan masyarakat pesisir dan nelayan dalam memberikan informasi kepada aparat juga menjadi faktor penting dalam mendeteksi aktivitas mencurigakan di wilayah perairan terpencil.

Pengungkapan di Pulau Ndana ini tidak hanya menyangkut pengamanan tiga nelayan dan lima warga negara asing. Lebih jauh, penyelidikan perlu diarahkan untuk memastikan apakah peristiwa tersebut merupakan tindakan individual atau bagian dari pola pengangkutan manusia lintas negara yang melibatkan jaringan lebih luas.

Hingga kini, dugaan keterlibatan pihak lain maupun motif di balik perjalanan tersebut masih menunggu pembuktian melalui proses penyelidikan kepolisian. Seluruh pihak yang diamankan tetap harus diperlakukan berdasarkan ketentuan hukum dan asas praduga tak bersalah sampai terdapat penetapan hukum yang berkekuatan sesuai peraturan perundang-undangan.

(Severinus T. Laga)

About The Author

spot_img

Latest