Kabupaten Solok — Air Sungai Batang Lasi di Nagari Pianggu, Kecamatan IX Koto Sungai Lasi, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, kini berubah keruh kecokelatan. Kondisi tersebut memicu keresahan masyarakat yang selama ini menggantungkan berbagai kebutuhan hidup pada aliran sungai tersebut.
Pantauan di lokasi pada 4 September 2026, air Batang Lasi terlihat berwarna kecokelatan dan membawa material keruh di sepanjang aliran sungai. Kondisi itu kontras dengan fungsi sungai yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.
Persoalan ini bukan sekadar keluhan sesaat. Berita Acara Musyawarah Nagari Pianggu tertanggal 20 Mei 2026 mencatat bahwa masyarakat telah membahas dampak lingkungan yang terjadi di wilayah nagari, termasuk persoalan air keruh yang berdampak terhadap warga di Jorong Sungai Lasi dan Jorong Batang Pamo.
Dalam berita acara tersebut, peserta musyawarah menyepakati sejumlah poin, di antaranya penyediaan solusi air bersih bagi warga terdampak, adanya dampak terhadap lahan pertanian dan kolam ikan, serta pemberian tenggang waktu kepada investor untuk memberikan solusi. Bahkan, jika solusi tidak kunjung diberikan, masyarakat dan Pemerintah Nagari disebut akan menempuh jenjang yang lebih tinggi.
Namun, setelah persoalan dibahas dan dituangkan dalam kesepakatan, warga masih mempertanyakan hasil konkretnya di lapangan.
“Yang kami butuhkan bukan hanya pembahasan atau rapat. Kami ingin air yang bisa digunakan kembali. Kalau air sungai terus keruh seperti ini, masyarakat mau menggunakan air dari mana?” keluh seorang warga yang ditemui di sekitar aliran Batang Lasi.
Warga lainnya mempertanyakan mengapa persoalan yang sudah dibahas sejak beberapa bulan lalu belum menghasilkan penyelesaian yang benar-benar dirasakan masyarakat.
“Kalau memang ada kegiatan yang menyebabkan air berubah seperti ini, harus diperiksa. Jangan masyarakat terus yang menanggung dampaknya. Lahan pertanian dan kolam ikan juga bisa terdampak,” ujar warga lainnya.
Keresahan warga semakin beralasan karena perubahan kondisi sungai bukan hanya menyangkut persoalan estetika. Air sungai yang keruh berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama bagi warga yang selama ini memanfaatkan aliran tersebut untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan pertanian dan perikanan.
Masyarakat pun meminta Pemerintah Kabupaten Solok melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dinilai perlu turun langsung ke lapangan dan melakukan pemeriksaan kualitas air secara ilmiah.
Langkah tersebut penting untuk memastikan apakah perubahan warna dan kondisi air Batang Lasi berkaitan dengan aktivitas tertentu di sekitar daerah aliran sungai atau disebabkan faktor lainnya.
Jika hasil pemeriksaan nantinya menunjukkan adanya pencemaran akibat kegiatan tertentu, warga berharap pemerintah tidak ragu mengambil tindakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Jangan sampai masyarakat baru diperhatikan setelah ada korban atau kerugian yang lebih besar. Sungai ini bukan hanya milik satu pihak. Ini menyangkut kehidupan masyarakat,” tegas warga.
Karena itu, masyarakat berharap Pemerintah Nagari Pianggu, Pemerintah Kabupaten Solok, DLH, serta pihak terkait segera duduk bersama dan menghadirkan solusi yang terukur, bukan sekadar kembali melakukan rapat tanpa tindak lanjut.
Fokustkp.com akan terus menelusuri persoalan ini, termasuk meminta penjelasan Pemerintah Nagari Pianggu, Pemerintah Kabupaten Solok, DLH, serta pihak yang disebut berkaitan dengan aktivitas di sekitar aliran Sungai Batang Lasi. (Rian)


