Pekanbaru – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada awal pekan. Mata uang Garuda tercatat melemah tajam hingga menembus level Rp18.110 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan Senin (8/6/2026), seiring menguatnya sentimen global yang mendorong investor memburu aset safe haven.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terdepresiasi sebesar 104 poin atau 0,58 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini menambah tekanan terhadap rupiah yang dalam beberapa waktu terakhir terus dibayangi ketidakpastian ekonomi global.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan dolar AS menjadi faktor utama yang menekan pergerakan rupiah. Menurutnya, pasar merespons positif data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis lebih baik dari perkiraan, sehingga meningkatkan optimisme terhadap perekonomian Negeri Paman Sam.
“Rupiah berpotensi terus melemah terhadap dolar AS yang menguat tajam. Data pekerjaan AS yang lebih baik dari perkiraan menjadi pemicu utamanya,” ujar Ibrahim.
Tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tekanan terhadap rupiah juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik dunia. Kondisi tersebut membuat investor global cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain itu, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah turut memperkuat posisi dolar di pasar internasional. Situasi ini berdampak langsung terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, yang semakin tertekan oleh derasnya arus modal keluar.
“Eskalasi baru di Timur Tengah juga ikut mendukung penguatan dolar AS dan menekan rupiah lebih dalam,” tegasnya.
Dengan kombinasi tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan berada dalam bayang-bayang penguatan dolar AS.
Tumpak

